TRAGISNYA JENDERAL NASUTION

0
297
Jenderal Abdul Haris Nasution, atau yang biasa akrab dipanggil Pak Nas itu, mengalami masa-masa ‘gelap’ dalam kehidupan politik dan pribadinya justru setelah dia pensiun, ia dikucilkan dan di-cekal. Nasution tidak bisa lagi tampil di depan umum. Wartawanpun enggan mewawancarainya, karena mewawancarai dirinya adalah pekerjaan sia-sia, karena pasti tidak ada media yang memuat. Tamu-tamu yang datang ke rumahnya selalu harus melapor ke kantor intel yang ada di seberang rumahnya. Bahkan cerita Pak Nas, sampai-sampai bekas sopirnyapun harus sembunyi-sembunyi datang ke rumahnya disaat lebaran. Foto-foto dirinya kabarnya juga sempat diturunkan dari Markas Akademi Militer di Magelang.
Hal ini betul-betul merupakan sebuah tragedi, mengingat Pak Nas termasuk tokoh penting yang ikut berperan dalam mengakhiri rezim Orde Lama dan turut membidani lahirnya Orde Baru di Republik ini. Pak Nas betul-betul diisolasi, bahkan ia tidak dapat izin untuk tampil memberikan khotbah agama dalam perayaan hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.
Apalagi setelah ia aktif falam gerakan politik yang dikenal dengan nama Kelompok Petisi 50. Kelompok ini terdiri dari 50 warga Indonesia yang bermula menandatangani sebuah petisi keprihatinan, yang isinya menanggapi dan mengkritik pidato Presiden Soeharto di Pekanbaru pada tahun 1980. Dan keterlibatannya dalam Petisi 50 ini sempat diejek oleh seorang Menteri Penerangan saat itu, Ali Murtopo, sebagai ‘Gelandangan Politik’.
Sejak saat itu kehidupan sehari-hari Nasution praktis terus dibayang-bayangi aparat intelijen. Gerak-geriknya dipantau dengan ketat, termasuk tamu yang datang dan wartawan yang hendak mewawancarainya. Pencekalan juga dikenakan terhadap keluarganya, termasuk larangan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan acara yang tidak resmi sekalipun.
“Sebenarnya saya sudah dicekal sejak tahun 1971, ketika masih menjadi Ketua MPRS. Saya dan istri saya tidak boleh diundang pada acara pernikahan anak-anak Bu Gatot Subroto, Bu Yani, dan lainnya. Saya juga dilarang menyampaikan khotbah di Masjid Cut Mutiah, Jakarta. Tapi yang paling menyakitkan adalah upaya untuk melibatkan saya dalam peristiwa pembajakan pesawat Woyla. Katanya, sebelum menghembuskan nafas terakhir, pembajak yang tertembak di atas pesawat itu mengatakan √†gar segera melapor kepada Jenderal Nasution. Sebagai prajurit saya merasa dicurigai instansi pemerintah, dengan alasan dapat membahayakan negara”, cerita Pak Nas dalam sebuah bukunya.
Sementara ada oknum pejabat Pemda DKI yang pernah meminta gedung Yayasan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Ade Irma Suryani Nasution, yang terletak di Tebet, Jakarta Selatan, agar tidak lagi mencantumkan nama Nasution. Dan pada tahun 1989, dirinya juga dilarang memenuhi undangan pemerintah Malaysia untuk ceramah mengenai aspek-aspek pertahanan dan keamanan di Asia Tenggara. Pelarangan itu datang lansung dari salah seorang pensiunan Jenderal yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri.
Pencekalan politik yang dialami Nasution menjadikan dirinya akrab dengan aparat intel. Pengalamannya itu kemudian ia bandingkan dengan masa Revolusi dulu. Menurutnya, perlakuan intel Belanda terhadap dirinya dulu jauh lebih sopan ketimbang intel jaman sekarang. Cara kerja intel Belanda beroperasi sangat halus dan tidak kentara. “Kalau intel Indonesia kasar. Jadi, kalau saya bandingkan, saya justru lebih lama dicekal pada saat Indonesia sudah merdeka”, tutur Pak Nas.
Sumber; Perjalanan Hidup AH. Nasution. Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here